Abu Dujanah

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil, kecuali melalui cara berdagang dengan saling ridla diantara kalian. (An-Nisaa: 29)

Ada sahabat Rasul bernama Simak bin Kharashah, dengan nama panggilan Abu Dujanah, seorang jago pedang, petempur jarak dekat. Di perang Uhud dia yang memasang badan melindungi Rasulullah saw sampai punggungnya luka2 oleh panah musuh. Dia juga yang membunuh Musailamah, sang nabi palsu Dalam Hadis Riwayat Muslim tertulis bahwa ketika perang Uhud, Rasulullah saw memegang pedang miliknya dan bersabda: “Siapa yang mau memakai pedang ini ?” Semua sahabat mengulurkan tangannya. Lalu beliau bersabda lagi: “ Siapa yang mau memakai pedang ini dan melaksanakan hak nya ?” Semua menarik lagi tangan mereka kecuali Abu Dujanah. Maka dialah yang memakai pedang milik Rasulullah saw untuk menghantam kepala tentara musyrik. Tetapi dia tidak jadi membacok Hindun binti Uqbah wanita yang memakan jantung Hamzah bin Abdul Mutallib karena tidak rela pedang Rasulullah saw dilumuri darah wanita. Dia mati syahid tahun 632 M di medan perang Yamamah.



حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَخَذَ سَيْفًا يَوْمَ أُحُدٍ فَقَالَ ‏"‏ مَنْ يَأْخُذُ مِنِّي هَذَا ‏"‏ ‏.‏ فَبَسَطُوا أَيْدِيَهُمْ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ يَقُولُ أَنَا أَنَا ‏.‏ قَالَ ‏"‏ فَمَنْ يَأْخُذُهُ بِحَقِّهِ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَأَحْجَمَ الْقَوْمُ فَقَالَ سِمَاكُ بْنُ خَرَشَةَ أَبُو دُجَانَةَ أَنَا آخُذُهُ بِحَقِّهِ ‏.‏ قَالَ فَأَخَذَهُ فَفَلَقَ بِهِ هَامَ الْمُشْرِكِينَ



Selain keberaniannya, Abu Dujanah juga terkenal sebagai mukmin yang wara’, sangat cermat hati-hati dalam urusan rizki duniawi. Sebagai orang yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW, dia selalu sholat berjamaah. Tetapi selesai sholat subuh dia tidak menunggu sampai selesai dibacakan doa , tapi selalu bergegas pulang. Dan dalam sebuah kesempatan Nabi menegurnya, “Wahai Abu Dujanah, kenapa engkau tidak menunggu sampai dibacakannya doa?, tidakkah kau memiliki permintaan dan kebutuhan kepada Allah?” Abu Dujanah menjawab “Betul ya Rasul ada,!”, Rasul berkata “Lalu jika ada, mengapa engkau bersegera pulang?”. Abu Dujanahpun akhirnya menjelaskan “Bukannya aku tidak mau mendengarkan dan mengamini doamu ya Rasul, namun aku ini memiliki keluarga yang sangat miskin, tidak satupun makanan ada di rumahku, bahkan tidak jarang kami seharian menahan lapar. Sedangkan aku memiliki tetangga yang memiliki pohon korma yang batangnya condong ke rumahku, maka jika malam angin bertiup kencang, pasti buah-buahnya jatuh ke halaman rumahku!”.



Rasul berkata lagi “Lalu apa masalahmu?” , Abu Dujanah meneruskan “ Begini ya Rasul, bahwa setiap malam anak-anakku menangis karena belum makan sepanjang hari”, pernah suatu hari usai sholat subuh aku menunggu engkau, sampai mendengarkan engkau membacakan doa, namun yang terjadi ketika aku sampai di rumah aku lihat korma tetanggaku yang ada di halaman rumahku telah masuk ke dalam mulut anakku, maka segera aku ambil korma yang sedang dikunyahnya itu dengan jari ku, aku tidak mau mereka memakan yang bukan haknya, aku katakan kepada mereka “Nak jangan kau permalukan ayahmu di akhirat nanti, lantaran perbuatanmu ini, tidak akan kubiarkan nyawamu keluar dari jasadmu dalam keadaan membawa barang haram di dalam tubuhmu”. Si anakpun menangis karena sangat kelaparan, serta Abu Dujanah membawa kembali kurma tersebut kepada pemiliknya.

Mendengar kisah Abu Dujanah, Rasul dan para sahabat meneteskan air mata, sambil menangis Rasul memerintahkan Umar untuk mengumpulkan tetangga Abu Dujanah. Setelah terkumpul, Rasul berkata “Wahai kau pemilik pohon yang batangnya sampai ke rumah tetanggamu Abu Dujanah, kini aku beli pohon mu itu dengan 10 pohon korma di surga, yang akarnya dari permata hijau, pohonnya dari emas, dan dahannya darimutiara,dan di pohon itu terdapat bidadari sebanyak buah kuma yang ada di pohon tersebut!”. Si pemilik pohon yang belakangan diketahui sebagai seorang yang munafik ternyata menolaknya “Saya tidak ingin menjualnya dengan harga yang kau janjikan di akhirat, tapi jika kau ingin membelinya maka saya menjualnya dengan harga tunai!”. Mendengar perkataan si munafik ini, Abu Bakar langsung maju ke hadapannnya “Hai fulan, ku beli pohon kormamu dengan 10 pohon korma terbaikku yang tidak ada bandingannya di kota Madinah.!”. Mendengar perkataan Abu Bakar maka senanglah si munafik tersebut dan setujulah si munafik itu dengan Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar menghadiahkan pohon kurma tersebut untuk Abu Dujanah. Maka Rasul mengatakan kepada Abu Bakar “Hai! Abu Bakar, Allah akan mengantikan kebaikanmu di akhirat nanti”. Maka senanglah Abu bakar, bahagialah Abu Dujanah, dan gembiralah si munafik.


Si munafikpun pulang, sesampainya di rumah dia berkata kepada istrinya “:Wahai istriku, aku mendapatkan keuntungan yang banyak hari ini, aku telah menjual pohon korma kepada Abu bakar untuk Abu Dujanah dengan 10 pohon korma terbaik di kota ini, namun ingatlah wahai istriku! pohon yang kita jual itu tetap dalam kebun kita yang kita makan buahnya,dan tidak akan ada satu buahpun akan kuberikan kepada Abu Dujanah,” dengan sombongnya dan jahatnya sang suami dan istri ini mengingkari perjanjian dengan Nabi dan sahabat, pohon yang dijanjikan akan diberikan kepada Abu Dujanah tidak mau diberikan sepenuhnya.


Allah berkehendak lain, setelah mereka tidur keesokan harinya pohon korma yang ada di rumah si munafik telah berpindah ke halaman rumah Abu Dujanah dengan kudrah dan kekuasaan Allah, seolah-olah pohon itu tidak pernah ada di kebun si munafik sehingga tak ada bekas tanda-tanda dulu ada pohon kurma pada tempat itu hinnga heranlah si munafik. sungguh sangat luar biasa. Dijelaskan oleh para ulama bahwa pohon saja mau beriman dengan Rasul, maka sungguh amat sangat aneh mereka yang dengan akalnya tidak mau beriman kepada Rasulullah SAW. Kisah tadi mencontohkan pengamalan sifat wara’, yakni sifat sangat hati2 dalam urusan rizki duniawi, yang ditunjukkan oleh sahabat Nabi bernama Abu Dujanah untuk kita teladani. Shadaqollahul adzim. (BP)   
أحدث أقدم