JANGAN SIA-SIAKAN AMANAH

Kata khianat berasal dari bahasa arab yang berasal dari kata kerja “خان- يخون” selain “خيانة” bentuk masdarnya bisa berupa ‘خونا – وخاونة – ومخانة " yang semuanya berarti sikap tidak bagusnya seseorang ketika diberi kepercayaan.
Asy-Syaukani menjelaskan bahwa “خائن” adalah orang yang mengambil harta secra sembunyi-sembunyi dan menampakkan prilaku baiknya terhadap pemilik (harta tersebut).
Sementar itu Al Raghib Al-Ashafani seorang pakar bahasa Al-Qur’an ketika menjelaskan makna khianat, ia kaitkan dengan kata nifak. Kedua kata ini sama-sama memiliki arti yang tidak baik.
Dengan demikian ungkapan khianat juga digunkan bagi seseorang yang melanggar atau mengambil hak orang lain dan dapat pula dalam bentuk pembetalan sepihak perjanjian yang dibuatnya, khususnya dalam masalah utang piutang atau masalah muamalah secara umum.
Khianat, berakibat jelek pada segala hal. Bahkan dalam suatu kondisi akan lebih jelek dari yang lainnya.
Pada saat ini masyarakat Indonesia sedang menyaksikan bagaimana orang-orang yang berkhianat  dengan jabatan yang telah diamanahkan bangsa kepadanya dinodai oleh suatu perbuatan khianat terhadap tugas-tugasnya dan kekuasaan yang dipegangnya. Para pemegang amanah itu tidak menjalankan amanat sebaik-baiknya tetapi tragisnya di lain pihak mereka terus berusaha mempertahankan amanat yang diberikan kepadanya dengan berbagai cara. Walhasil ketika perbuatan khianat itu terbuka hijabnya yang selama ini tertutupi, maka tidak saja dirinya yang hancur karena malu, hilang martabat dan hartanya, hancur pula perasaan keluarga dan orang-orang disekelilingnya.
Seorang mukmin wajib menjauhi sifat khianat, baik itu khianat kepada Allah dengan tidak menunaikan amanah yang di berikan kepadannya berupa kewajiban-kewajiban yang harus di jalankan seorang hamba, dan dengan melanggar larangan-Nya, atau khianat pada apa yang diamanahkan orang lain kepadannya berupa jabatan, pekerjaan, ataupun barang atau benda yang harus di jaga.
Rasullah saw bersada, “Allah berkata, Aku menjadi fihak yang ketiga dari dua orang yang bersepakat, selama tidak ada salah satunya yang khianat”.
Dalam sebuah hadits lain disebutkan perkara pertama kali yang akan diangkat dari manusia adalah amanah. Dan yang terakhir yang tersisa adalah shalat…. (HR. Abu Dawud dan Al Hakim).
Rasulullah saw juga bersabda, “Jauh-jauhlah kalian dari sifat khianat, karena ia adalah akhlak yang paling tercela”. (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Maajah)
Rasulullah saw bersabda,” Beginilah ahli neraka, beliau menyebutkan seseorang yang tidak diragukan sifat tamaknya dan jika diamanati maka ia akan khianat.”
Oleh karena itu, amanah dan khianat adalah dua sifat dan perilaku yang bersebrangan / bertentangan satu dengan yang lainnya. Dimana dua hal inilah yang banyak diungkapkan dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi saw.
Amanah termasuk sifat terpuji yang harus melekat pada setiap pribadi orang yang beriman, kapan dan di mana pun, serta apa pun posisi, profesi, jabatan, dan kedudukannya. Sedangkan khianat termasuk sifat yang buruk (akhlaq madzmumah) yang harus dihindari, dijauhi, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang beriman.
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal [8]: 27).
Betapa pentingnya sifat amanah ini. Sampai-sampai Rasulullah saw menyatakan tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak pernah menepati janji.
Khianat merupakan pintu masuk segala kejelekan, dan tempat tumbuhnya segala  keburukan dan kejahatan, apabila sifat ini telah menyebar di tengah-tengah masyarakat, maka akan rusaklah tatanan yang ada dalam masyarakat tersebut. Setelah itu, munculah penguasa-penguasa yang dhalim, pejabat-pejabat yang korup, yang akan menghancurkan semua sendi-sendi keadilan dalam masyarakat. 
Negara dan bangsa yang presiden, para menteri, para anggota DPR, para penegak hukum, dan para pejabat publiknya amanah, akan menyebabkan negara dan bangsa itu mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
Karena memang sifat amanah itu mengundang kemakmuran dan kebahagiaan, sedangkan sifat khianat akan mengundang kefakiran dan kemiskinan. (HR Imam ad-Daelami).
Jika sifat amanah ini hilang dan diganti dengan sifat khianat, masyarakat dan bangsa itu beserta para pemimpinnya akan meluncur menjadi bangsa yang munafik.
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga macam: “Jika berkata ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya dia berkhianat.”
Dan, jika kemunafikan sudah merajalela pada setiap level dan tingkatan masyarakat, bangsa itu akan menjadi bangsa yang gamang, peragu, tidak punya identitas, takut dalam berbuat dan bertindak yang benar, dan akan hilang pula kepercayaan pada dirinya. (lihat QS An-Nisa’ [4]: 143).
Peringatan Al-Quran dan hadits di atas harusnya menjadi perhatian kita semua, masyarakat Indonesia, yang saat ini mengalami berbagai problem yang berat dan kompleks. Terutama para pemimpin, pejabat publik, dan para penegak hukum harus menjadikan amanah ini sebagai sifat, watak, dan perilaku yang melekat pada struktur kepribadiannya.
Sebab, hanya dengan sifat amanah inilah kita akan mampu membangun bangsa ke depan dengan lebih baik. Sebaliknya, jika sifat khianat yang mendominasi pikiran dan perilaku kita, kehancuran dan kerusakanlah yang akan terjadi.

Jauhi Sifat Khianat
Sifat khianat ini juga berkaitan dengan keimanan, dikarenakan iman juga merupakan amanah, maka barang siapa yang berkhianat dan menyia-nyiakan amanah berarti dia telah menyia-nyiakan iman. Ini diisyaratkan oleh Nabi saw lewat sabda beliau yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, beliau berkata ; "Suatu ketika Rasulullah saw berkhutbah di hadapan kami, dalam khutbahnya beliau berkata, “Tidak ada iman bagi yang tidak memiliki sifat amanah. Dan, tidak ada agama bagi yang tidak menepati perjanjian'." (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi)
Semoga Allah SWT memelihara dan menjaga kita semua dari perilaku khianat yang menghancurkan itu. Wallahu ‘alam BSI 02/2015

أحدث أقدم