JENDERAL LAPANGAN

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf  dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. 3/104)

Dakwah merupakan kewajiban bagi individu atau kelompok (jama’ah) umat Islam dalam rangka amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta menyebarkan rahmat Allah ke seluruh penjuru alam. Bagian dari kegiatan dakwah itu sendiri adalah menyadarkan kaum muslimin akan kewajiban dakwah secara individu ataupun bersama-sama. Pahlawan Nasional, Pak Natsir mengatakan bahwa “Kerja dakwah yang utama dan penting itu adalah mengingatkan kaum muslimin akan kewajiban dakwah itu”.
Problematika atau tantangan dakwah semakin lama semakin meningkat, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Media massa dari mulai koran, tabloit, majalah, radio, televisi, sampai internet dan jejaring sosial terlihat sepertinya lebih memihak dan mendorong terjadinya dekadensi moral dan bebas nilai, laksana pisau dapur yang lebih banyak digunakan untuk melakukan kejahatan dan kemaksiatan, dari pada berperan sebagai pengolah makanan. Sementara pergerakan dakwah baik yang dilakukan individu maupun lembaga dipersempit dan dicurigai dengan berbagai kebijakan yang banyak merugikan kaum muslimin. Dana dakwah baik dari dalam negeri maupun bantuan dari luar negeri diawasi, dan itu hanya diterapkan kepada lembaga-lembaga Islam melalui Undang-Undang Terorisme, dipersulitnya wanita muslimah di lembaga-lembaga kenegaraan menggunakan jilbab, ada wacana diseragamkannya materi khutbah di masjid-masjid, penghapusan kolom agama di KTP, dan terakhir pemerintah menyiapkan dana triliyunan  melalui bea siswa program 1000 doktor untuk memerangi radikalisme, serta mengirimkan guru-guru agama ke Oxfort University untuk mengajarkan pluralisme kepada setiap anak didik di Indonesia.  Penulis yakin akan ada lagi kebijakan-kebijakan baru yang banyak merugikan Islam.

Begitu banyak tantangan dakwah tidak boleh meyurutkan pada da’i dalam berdakwah. Dakwah dalam arti amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah satu seni penaklukan yang sangat mengesankan. Karena orang-orang yang ditaklukan dengan cara dakwah merasa bersyukur dan berterima kasih, sebab dirinya sudah terselamatkan. Sedangkan cara penaklukan yang lain yakni melalui cara peperangan. Perang adalah satu pembunuhan, penghancuran harta dan keturunan. Sampai tujuh keturunanpun sejarahnya tak akan pernah terlupakan.  Pak Natsir ketika memberikan pembekalan kader  da’i mengatakan, “Kita mengkaderkan untuk mencetak jenderal-jenderal lapangan, bukan prajurit-prajurit”. Satu jenderal lapangan yang ahli strategi lebih berharga dari seribu prajurit yang hanya siap menunggu perintah. Kemudian Pak Natsir menerangkan, “Ukuran seorang da’i dalam keberhasilannya adalah bila dia berhasil menjadikan sebanyak-banyaknya lawan menjadi kawan. Sedangkan ukuran keberhasilan seorang jenderal perang adalah apabila dia berhasil melulu-lantakkan dan membunuh sebanyak-banyaknya lawan”.
Begitu hebatnya Pak Natsir memberikan semangat kader da’i dengan menganalogikan dakwah dengan perang, sebagai upaya menyelamatkan kaum muslimin dari kecelakaan dan kebinasaan. Apabila gerakan dakwah hilang  maka yang akan muncul adalah kemungkaran, Rasul Saw, bersabda;
لتأمرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر، أو ليسلطن الله عليكم شراركم فيدعو خياركم فلا يستجاب لهم.
“Harus kamu mengajak kepada kebaikan dan harus mencegah perbuatan mungkar; jika tidak, maka Allah pasti akan menjadikan orang-orang jahat di antara kamu menguasai kamu; dan andaikata (ada) orang-orang baik di antara kamu, berdo’a (untuk keselamatan) maka (do’a) mereka tidak akan terjawab” (HR. Al Bazzar).  Bahkan kemungkaran itu adalah pengundang bencana, Allah berfirman
وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا
“Tak ada suatu negeri pun  (yang durhaka penduduknya), melainkan Aku membinasakannya sebelum hari kiamat atau Aku azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras”. (QS. 17; 58). Apabila azab sudah Allah SWT timpakan kepada suatu negeri, maka semua penduduknya akan terkena, baik ia seorang yang soleh maupun ahli maksiat.
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya” (QS. 8; 25).



Tidak mudah memang menjadi juru dakwah, di tengah tantangan medan dakwah yang begitu berat. Tantangan dan ancaman tidak hanya dari pihak luar yang membenci Islam tapi juga tidak sedikit dari kalangan umat Islam sendiri. Bid’ah akidah dengan banyak bermunculannya aliran sesat; Ahmadiyah, Syiah, JIL, LDII, Baha’i dll merupakan PR besar para juru dakwah dan kaum muslimin untuk menyadarkan mereka.  Namun beruntunglah bagi juru dakwah karena mereka adalah pewaris para nabi, tugas dakwah yang dulu diemban para nabi untuk menyadarkan dan membimbing umat manusia di jalan Allah SWT,  tongkat estapet itu dipegangnya, sekalipun ancaman terhadap diri dan keluarga di depan mata. Semangat mereka Allah gambarkan dengan firmanNya, “Orang-orang yang beriman kepada Allah Swt dan Hari Akhir tidak akan minta tangguh kepadamu untuk mundur dari berjuang dengan harta dan jiwa mereka. Allah mengetahui orang-orang yang berbakti...” (QS. At-Taubah; 44-45)

Sebagai balasan perjuangan tak kenal lelah Allah SWT memberikan khabar gembira kepada juru dakwah dengan firmannya, “Dan mereka yang berjihad di jalan Kami, pasti Kami akan tunjukkan jalan-jalan (untuk mencapai tujuan). Sesungguhnya Allah senantiasa beserta mereka yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut; 69). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran; 110).  Untuk mengakhiri tulisan ini, penulis mengutip  ucapan Pak Natsir dalam satu pesan dakwahnya, “Risalah merintis, dakwah yang melanjutkan, jangan berhenti tangan mendayung, kalau tidak ingin diterpa gelombang”.(BSI 01/51)
أحدث أقدم