Alexandria adalah kota tepi pantai di Mesir yang terletak 200 km diutara Kairo. Disana ada makam seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Darda yang wafat disana tahun 652 M. Tetapi di Damaskus juga ada makam Abu Darda di dinding arah kiblat masjid Umayyah. Rupanya penduduk kota-kota tadi rebutan ingin ikut terhormat bila ada makam sahabat yang terkenal itu.
Abu Darda tergolong kaum Ansor di Madinah dari suku Khazraj dengan nama aslinya Uwaymar atau Mukabir bin Qais bin Zaid bin Umayyah bin Malik. Putrinya yang cantik bernama Darda, maka dia dipanggil dengan Abu Darda dan isterinya dipanggil Ummu Darda.
Profesinya adalah pedagang dan termasuk yang agak terlambat masuk Islam, yakni setelah perang Badar. Namun setelah itu dia menjadi salah satu sahabat yang zuhud dan disegani. Dia ikut semua peperangan setelah perang Uhud, hafal al-Qur’an dan meriwayatkan 200 hadist dari Rasulullah saw. Abu Darda tidak meninggalkan kegiatan perdagangan, tetapi dia meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan kemegahannya. Baginya sudah cukup sesuap nasi sekadar untuk menguatkan badan, dan sehelai pakaian kasar untuk menutupi tubuh.
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Umar mengangkat Abu Darda menjadi pejabat tinggi di Syam, sekarang disebut Syria. Tetapi, Abu Darda menolak pengangkatan tersebut. Khalifah Umar marah kepadanya. Lalu kata Abu Darda, “Saya mau pergi tetapi hanya untuk mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah kepada mereka serta menegakkan salat bersama-sama dengan mereka.” Khalifah Umar menyukai rencana tersebut lalu Abu Darda berangkat ke Damsyiq (Damascus).
Disana dia mengunjungi majelis-majelis masyarakat Damsyiq dan pergi ke pasar-pasar. Pada suatu ketika dia melihat sekelompok orang mengeroyok seorang laki-laki. Laki-laki itu babak belur dipukuli dan dicaci-maki mereka. Abu Darda datang menghampiri, lalu bertanya, “Apa yang telah terjadi?”Jawab mereka, “Orang ini jatuh ke dalam dosa besar. ”Kata Abu Darda, “Seandainya dia jatuh ke dalam sumur, tidakkah kalian keluarkan dia dari sumur itu ?. Janganlah kalian caci maki dia, dan jangan pula kalian pukuli. Tetapi, berilah dia pengajaran dan sadarkan dia. Bersyukurlah kalian kepada Allah yang senantiasa memaafkan kalian dari dosa.”
Suatu ketika Gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan melamar anak gadis Abu Darda, yaitu Darda, untuk putranya, Yazid. Abu Darda menolak lamaran Muawiyah tersebut. Dia tidak mau mengawinkan anak gadisnya dengan putra Gubernur. Malahan Darda dikawinkannya dengan seorang pemuda anak orang kebanyakan yang berakhlak baik.
Pada suatu waktu Khalifah Umar bin Khattab datang mengunjungi sahabat itu di rumahnya malam hari. Ternyata pintu rumah itu tidak dikunci dan rumah gelap tanpa lampu. Ketika mendengar suara Khalifah, Abu Darda berdiri mengucapkan selamat datang dan menyilakan Khalifah Umar untuk duduk. Keduanya segera terlibat dalam pembicaraan penting, ditengah kegelapan sehingga masing-masing tidak melihat kawannya berbicara. Khalifah Umar meraba-raba bantal alas duduk Abu Darda, kiranya sebuah pelana kuda. Dirabanya pula kasur tempat tidur Abu Darda, kiranya berisi pasir belaka. Dirabanya pula selimut, kiranya kain tipis yang tidak mencukupi untuk musim dingin.
Kata Khalifah Umar, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda. Maukan Anda saya bantu sesuatu untuk melapangkan kehidupan Anda?” Jawab Abu Darda, “Wahai Umar ingatlah sabda Rasulullah saw kepada kita: “Hendaklah kamu melengkapi dunia seperti perbekalan seorang pengendara (yaitu secukupnya dan seadanya).” Jawab Khalifah Umar, “Ya, saya ingat!” Kata Abu Darda, “Nah, apa yang telah kita perbuat sepeninggal beliau, hai Umar?” Khalifah Umar menangis, dan Abu Darda pun menangis pula. Akhirnya, mereka berdua bertangis-tangisan sampai waktu subuh.
Abu Darda menjadi guru selama tinggal di Damsyiq. Dia memberi pengajaran kepada penduduk, memperingatkan mereka, mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka. Tatkala Abu Darda hampir meninggal, para sahabatnya datang berkunjung.Mereka bertanya, “Sakit apa yang Anda rasakan?” Jawab Abu Darda, “Dosa-dosaku!” Tanya, “Apa yang Anda inginkan?” Jawabnya, “Ampunan Tuhanku.” Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang hadir di sekitarnya, “Ulangkanlah kepadaku kalimah, Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.” Abu Darda senantiasa membaca kalimah tersebut berulang-ulang hingga nafasnya yang terakhir.*** BSI 01/51 - 2015
Abu Darda tergolong kaum Ansor di Madinah dari suku Khazraj dengan nama aslinya Uwaymar atau Mukabir bin Qais bin Zaid bin Umayyah bin Malik. Putrinya yang cantik bernama Darda, maka dia dipanggil dengan Abu Darda dan isterinya dipanggil Ummu Darda.
Profesinya adalah pedagang dan termasuk yang agak terlambat masuk Islam, yakni setelah perang Badar. Namun setelah itu dia menjadi salah satu sahabat yang zuhud dan disegani. Dia ikut semua peperangan setelah perang Uhud, hafal al-Qur’an dan meriwayatkan 200 hadist dari Rasulullah saw. Abu Darda tidak meninggalkan kegiatan perdagangan, tetapi dia meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan kemegahannya. Baginya sudah cukup sesuap nasi sekadar untuk menguatkan badan, dan sehelai pakaian kasar untuk menutupi tubuh.
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Umar mengangkat Abu Darda menjadi pejabat tinggi di Syam, sekarang disebut Syria. Tetapi, Abu Darda menolak pengangkatan tersebut. Khalifah Umar marah kepadanya. Lalu kata Abu Darda, “Saya mau pergi tetapi hanya untuk mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah kepada mereka serta menegakkan salat bersama-sama dengan mereka.” Khalifah Umar menyukai rencana tersebut lalu Abu Darda berangkat ke Damsyiq (Damascus).
Disana dia mengunjungi majelis-majelis masyarakat Damsyiq dan pergi ke pasar-pasar. Pada suatu ketika dia melihat sekelompok orang mengeroyok seorang laki-laki. Laki-laki itu babak belur dipukuli dan dicaci-maki mereka. Abu Darda datang menghampiri, lalu bertanya, “Apa yang telah terjadi?”Jawab mereka, “Orang ini jatuh ke dalam dosa besar. ”Kata Abu Darda, “Seandainya dia jatuh ke dalam sumur, tidakkah kalian keluarkan dia dari sumur itu ?. Janganlah kalian caci maki dia, dan jangan pula kalian pukuli. Tetapi, berilah dia pengajaran dan sadarkan dia. Bersyukurlah kalian kepada Allah yang senantiasa memaafkan kalian dari dosa.”
Suatu ketika Gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan melamar anak gadis Abu Darda, yaitu Darda, untuk putranya, Yazid. Abu Darda menolak lamaran Muawiyah tersebut. Dia tidak mau mengawinkan anak gadisnya dengan putra Gubernur. Malahan Darda dikawinkannya dengan seorang pemuda anak orang kebanyakan yang berakhlak baik.
Pada suatu waktu Khalifah Umar bin Khattab datang mengunjungi sahabat itu di rumahnya malam hari. Ternyata pintu rumah itu tidak dikunci dan rumah gelap tanpa lampu. Ketika mendengar suara Khalifah, Abu Darda berdiri mengucapkan selamat datang dan menyilakan Khalifah Umar untuk duduk. Keduanya segera terlibat dalam pembicaraan penting, ditengah kegelapan sehingga masing-masing tidak melihat kawannya berbicara. Khalifah Umar meraba-raba bantal alas duduk Abu Darda, kiranya sebuah pelana kuda. Dirabanya pula kasur tempat tidur Abu Darda, kiranya berisi pasir belaka. Dirabanya pula selimut, kiranya kain tipis yang tidak mencukupi untuk musim dingin.
Kata Khalifah Umar, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda. Maukan Anda saya bantu sesuatu untuk melapangkan kehidupan Anda?” Jawab Abu Darda, “Wahai Umar ingatlah sabda Rasulullah saw kepada kita: “Hendaklah kamu melengkapi dunia seperti perbekalan seorang pengendara (yaitu secukupnya dan seadanya).” Jawab Khalifah Umar, “Ya, saya ingat!” Kata Abu Darda, “Nah, apa yang telah kita perbuat sepeninggal beliau, hai Umar?” Khalifah Umar menangis, dan Abu Darda pun menangis pula. Akhirnya, mereka berdua bertangis-tangisan sampai waktu subuh.
Abu Darda menjadi guru selama tinggal di Damsyiq. Dia memberi pengajaran kepada penduduk, memperingatkan mereka, mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka. Tatkala Abu Darda hampir meninggal, para sahabatnya datang berkunjung.Mereka bertanya, “Sakit apa yang Anda rasakan?” Jawab Abu Darda, “Dosa-dosaku!” Tanya, “Apa yang Anda inginkan?” Jawabnya, “Ampunan Tuhanku.” Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang hadir di sekitarnya, “Ulangkanlah kepadaku kalimah, Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.” Abu Darda senantiasa membaca kalimah tersebut berulang-ulang hingga nafasnya yang terakhir.*** BSI 01/51 - 2015
