UMMAT ISLAM DALAM SEJARAH NASIONAL

Kalau kita sedikit merenungkan sejarah kebangkitan nasional, maka ada lima zaman yang sudah berjalan yaitu, pertama zaman penjajahan, kedua zaman kemerdekaan, ketiga zaman orde lama, keempat zaman orde baru dan kelima zaman reformasi.
Di kelima zaman ini,  di mana posisi ummat Islam? Pertanyaan ini tidak mungkin dijawab secara penuh, namun kita bisa ambil yang penting-pentingnya, yakni setelah meninggalkan perjuangan bersenjata, lalu masuk pada perjuangan sosial politik melalui pergerakan-pergerakan dalam masyarakat. Kita mengetahui bahwa yang paling akhir bertahan dari penjajahan adalah Aceh. Harusnya kita bertanya mengapa Aceh sulit ditaklukkan Belanda? Ini karena masyarakat Aceh tidak dapat dilepaskan dengan Islam sehingga Aceh diistilahkan “Serambi Mekkah”. Menurut peneliti sejarah, bahkan ada dalam bentuk disertasi diketahui bahwa faktor agama Islam merupakan hal yang paling dominan bagi masyarakat Aceh dalam melawan Belanda, jadi Islam mempunyai daya resistensi terhadap penjajahan.
Dalam rangka perjuangan melawan penjajahan melalui kekuatan sosial politik, maka lahirlah di Jawa “Budi Utomo” tahun 1908 dengan tokohnya Wahidin Sudirohusodo, namun sebelumnya tahun 1905 H, Samankudi mendirikan “Serikat Dagang Islam” yang kemudian berubah menjadi Serikat Islam tahun 1911. Kemudian lahir Muhammadiyah tahun 1912 bergerak di bidang pendidikan dan dakwah, pendidik dan pelayanan sosial. Semua organisasi ini pada hakekatnya menghimpun kekuatan masyarakat, kekuatan sosial, ekonomi dan bahkan kemudian kekuatan politik untuk menghadapi penjajah.

Kebangkitan Nasional: Budi Utomo atau SI/SDI
Kalau dijawab dengan jujur tentu kita harus melihatnya dari dua sisi, pertama tahun pendiriannya dan yang penting adalah anggota pendiri dan pengikutnya mewakili daerah-daerah secara nasional. Hanya memang tergantung siapa menafsirkannya dan siapa yang berkuasa, sebagai contoh; pergerakan Pangeran Dipenogoro oleh Belanda dianggap “Pemberontak” tapi bagi kita beliau adalah Pejuang. Contoh lain misalnya pada zaman orde lama, kalau dengan kelahiran Pancasila dan peran Bung Karno oleh Nugroho Notosusanto yang menimbulkan tanda tanya di kalangan para sejarawan dianggap “Pemutarbalikkan Sejarah” jadi memang tergantung siapa yang berkuasa dan yang mengintrepretasikan. Kembali pada Kebangkitan Nasional, dapat kita lihat Serikat Dagang Islam berdiri tahun 1905, sedang Budi Utomo berdiri tahun 1908 dan terbatas di Jawa saja, sedangkan Serikat Dagang Islam bercorak Nasional, sebagi bukti SDI lahir juga cabang-cabangnya di Sumatera dan pulau-pulau lainnya.

Kapan sebenarnya generasi muda Islam melawan penjajah.
Pada tahun 1925 ada gerakan Jong Jawa, Jong Sumatra, ada Jong Ambon, tetapi generasi muda Islam antara lain M. Natsir mendirikan Jong Islamieten Bond (JIB) hal ini mirip dengan kasus Budi Utomo dengan Sarikat Islam. Beberapa Jong itu sifatnya kedaerahan tapi Jong Islamieten sifatnya lebih menasional karena dimana-mana ada cabang Jong Islamieten Bond. JIB-JIB ini tidak terpisah-pisah melainkan menjadi satu.
Pada tahun 1928, sudah diproklamirkan bahwa “Satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, yakni “Indonesia”, tapi dalam prakteknya belum, masih banyak yang belum bisa, masih menggunakan bahasa Belanda. Jadi bagaimana menasionalisasikan bahasa Indonesia ini menjadi perjuangan tersendiri.  Oleh karena itu dalam himpunan Jong Islamieten Bond selalu menekankan supaya berbahasa Indonesia.
Sebagimana dijelaskan di atas bahwa hubungan Kebangkitan Nasional dengan peran ummat Islam adalah empat zaman dan saat ini Ummat Islam berada pada zaman reformasi.

Apa yang dibutuhkan Ummat Islam saat ini
Untuk mengisi zaman reformasi adalah antara lain, pertama; memulihkan mentalitas ummat Islam sebagi warisan penjajah, antara lain; mental feodal, perpecahan ummat Islam. Sampai saat ini, perjuangan dakwah kita, yakni mengembalikan “Piagam Jakarta” dari UU Dasar 1945, justru ummat Islam masih banyak yang menolak. Ini harus disadari bahwa penjajah itu tidak pulang dengan senang hati, mereka menjajah dengan cara lain yaitu memecah belah ummat Islam.
Oleh sebab itu, Ummat Islam diperlukan kembali memahami Islam dari sumbernya, yakni Al-Qur’an dan Sunnah secara konfrehensif (kaffah).
Demikian semoga dengan hari Kebangkitan Nasional tahun 2013 in,i ummat Islam bisa menjadi hamba Allah yang utuh dalam menghadapi tantangan dakwah dan pendidikan Islam kedepan.*** BSI No 11/2013
أحدث أقدم