Tuhan Tidak Perlu Dibela?

Belum selesai kasus oknum yang menyebut bahwa Tuhan bukan orang Arab, sudah muncul pelecehan agama lagi. 

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) melaporkan Ferdinand Hutahaean mantan politikus Demokrat ke Bareskrim Polri pada Rabu 5 Januari 2022. Laporan tersebut terkait kasus dugaan pemberitaan bohong alias hoaks bernada SARA dan penodaan agama. 

Cuitan Ferdinand di akun Twitter pribadinya pada Selasa 4 Januari 2022 berbunyi: "Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, Dia lah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu di bela,". 

Mengenai laporan tersebut, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menaikkan status kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks bernada SARA yang menjerat Ferdinand Hutahaean dari penyelidikan ke penyidikan. 

Ada yang menyangka bahwa dia terpengaruh oleh buku terbitan tahun 1999 dengan judul: “Tuhan Tidak Perlu Dibela”. Buku ini merupakan kumpulan dari kolom-kolom Gus Dur yang pernah dimuat dalam Majalah Tempo lama, pada kurun waktu 1970-an dan 1980-an. 

Di situ ada tulisan Gus Dur yang menyitir Al-Hujwiri, ulama Sunni pendakwah Islam di Asia Selatan kelahiran Ghazna, Afganistan tahun 1009: “Bila engkau menganggap Allah itu ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir.  Allah tidak perlu disesali kalau Dia menyulitkan kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya”. Rupanya kalimat-kalimat seperti ini menjadi umpan yang dipelintir oleh orang-orang liberal anti Islam. Padahal sebenarnya Abul Hasan Ali Al-Hujwiri adalah seorang pengikut Ahlussunnah yang dikenal sebagai ulama yang berusaha mendamaikan tasawuf, fikih dan ilmu kalam. Belaiu wafat tahun 1073 di Lahore, Pakistan dan berulang kali mengingatkan: Tidak ada sufi, termasuk yang telah mencapai tingkat tinggi, bebas dari kewajiban syariat menaati hukum-hukum agama. Ia menegaskan, ada keterkaitan erat antara syariat dan hakekat. 

Menurutnya syariat tanpa hakekat tidak membuahkan apa-apa. Sedangkan hakekat tanpa syariat, hanya membuahkan kemunafikan. Tetapi orang-orang liberal memelintirnya dengan niat jahat dan sering nyinyir kepada aktifis Islam dengan slogan : "Allah tidak perlu dibela, karena Allah Maha Kuat”. Kalimat itu benar tapi salah penempatan. Istilahnya: kalimatul haq yuradu bihal baathil (kalimatnya benar tapi maksudnya batil) . Dalam pikiran mereka, seakan menolong Allah itu serupa dengan menolong makhluk yang lemah tidak berdaya, lalu datanglah manusia yang menolongnya. Maha Suci Allah dari pemahaman seperti itu. Mereka mengabaikan ayat:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7) 

Apa makna dari "menolong Allah" dalam ayat ini? Yaitu menolong, membela, agama Allah, Islam, saat melawan orang kafir. Hal ini dikatakan Imam Al Qurthubi dalam Tafsirnya.

Menolong agama Allah, bukan karena Allah tidak mampu menjaganya, bukan karena Dia lemah, tapi tidak lain karena hal itu adalah sarana bagi hambaNya untuk berlomba dalam kebaikan, dan sarana  mendekatkan diri kepadaNya. 

Imam Ar-Razi menjelaskan, makna “In tanshurullah (jika kalian menolong Allah)” adalah menolong agama-Nya, memperjuangkan syariah-Nya dan membantu para pejuang yang memper-juangkannya. Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini dengan ungkapan, “al-Jaza' jinsu al-'amal (balasan itu sesuai dengan jenis amal yang diberikan).” Artinya, ketika kita menolong Allah, Dia pasti akan menolong kita. 

Dalam Al-Qur’an, Allah juga menceritakan tentang Nabi Isa as:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّـۧنَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ فَـَٔامَنَت طَّآئِفَةٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٞۖ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ


“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah Ansharullah (penolong-penolong (agama) Allah),” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS. Ash-Shaf : 14) .

Ansharullah, penolong Allah, yaitu pembela agama Allah, adalah bahasa Al-Qur’an dan merupakan stimulus untuk kaum beriman. Bukan karena Allah lemah -Maha Suci Allah dari sifat lemah-, tapi itu medan perjuangan dan amal shalih yang benefitnya kembali ke manusianya baik dunia dan akhirat. Dalam hadits shahih, riwayat Imam At Tirmidzi, bahwa Rasulullah saw bersabda: 


“Jagalah  Allah, niscaya Dia akan menjagamu”


Apakah hadits ini bermakna Allah itu lemah dan harus dijaga? Laksana rumah yang dijaga sekelompok security? Bukan. Para ulama menjelaskan maksudnya adalah jagalah batasan-batasan syariatNya, laranganNya, perintahNya, janganlah kamu langgar. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Rajab dalam Jami' al 'Ulum wal Hikam. Maka, sangat keliru anggapan orang-orang liberal yang menyinyir aktifis Islam dengan kalimat "Allah tidak perlu dibela." 

Karena memang mereka tidak paham apa makna membela agama dan memang sama sekali tidak tertarik untuk membela sesuatu yang mereka benci. Sesungguhnya jalan perjuangan, membela agama Allah, adalah jalan yang begitu berat tapi nikmat. Walau musuh-musuhnya menaburi dengan berbagai ranjau, jebakan, tuduhan, tapi para pejuang melaluinya dengan tegar dan kebahagiaan. Seandainya mereka tahu nikmatnya jalan ini, tahu kemuliaannya, paham karakternya, niscaya mereka pun akan ikut bersama kafilah para pejuang walau harus meraihnya dengan bersusah payah.  Insya Allah.*** (Bambang P)

أحدث أقدم