Husnul khatimah

Husnul khatimah berasal dari bahasa Arab yang artinya "akhir yang baik". Maksudnya adalah sebuah kematian yang berakhir dalam kondisi yang baik, yakni diridai Allah SWT.

Kematian yang husnul khatimah adalah kebahagiaan yang tiada tertandingi nilainya dan memiliki kedudukan yang terhormat dan agung di hadapan Allah SWT.

Sejumlah hadits mengungkap tanda-tanda orang yang meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah. Tanda-tanda tersebut, di antaranya sebagai berikut :

Pertama: Mengucapkan kalimat syahadat saat akan meninggal

Dari Mu'adz bin Jabal ra, Nabi saw bersabda, “Barang siapa yang akhir perkataannya adalah kalimat 'laa ilaha illallah' (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud no. 3116)

 Kedua: Meninggal dunia dengan kening berkeringat

Dari Buraidah bin Al-Hashib ra, Rasulullah saw bersabda, “Kematian seorang mukmin dengan keringat di kening.” (HR. Tirmidzi, no. 982; Ibnu Majah, no. 1452, An-Nasa'i, no. 1828, dan Ahmad, no. 23022. 

Para ulama mengatakan bahwa ini adalah ibarat untuk menunjukkan beratnya kematian, hingga menghadapi beban berat seperti itu sebagai tanda penghapusan dosa atau ditinggikannya derajat. Atau ada ulama yang mengatakan bahwa itu adalah tanda baik ketika akan meninggal dunua.

 Ketiga: Meninggal dunia pada malam atau hari Jum'at

Dari 'Abdullah bin 'Amr ra, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah (siksa) kubur.” (HR. Ahmad, 10:87 dan Tirmidzi, no. 1074)

Inilah kematian yang dialami oleh Mang Oded, wali kota Bandung. Beliau meninggal dunia tatkala shalat tahiyatul masjid pada hari Jum'at pada saat beliau akan khutbah Jum'at. 

Keempat: Disebut syahid selain syahid di medan perang

Dari Jabir bin 'Atik ra, Nabi saw bersabda, “Orang-orang yang mati syahid yang selain terbunuh di jalan Allah 'azza wa jalla itu ada tujuh orang, yaitu korban wabah adalah syahid; mati tenggelam (ketika melakukan safar dalam rangka ketaatan) adalah syahid; yang punya luka pada lambung lalu mati, matinya adalah syahid; mati karena penyakit perut adalah syahid; korban kebakaran adalah syahid; yang mati tertimpa reruntuhan adalah syahid; dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan (dalam keadaan nifas atau dalam keadaan bayi masih dalam perutnya) adalah syahid.” (HR. Abu Daud, no. 3111)

Ibnu Hajar menyebutkan yang dimaksud dengan syahid adalah malaikat menyaksikan bahwa mereka mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir hidup yang baik). (Lihat Fath Al-Bari, 6:43)

 Kelima:  Mati karena begal, hartanya dirampas

Dari Sa'id bin Zaid, dari Nabi saw, beliau bersabda, “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR. Abu Daud, no. 4772 dan An-Nasa'i, no. 4099).

 Keenam: Meninggal karena sedang ribath (menjaga wilayah perbatasan) di jalan Allah Ta`ala

Dari Salman Al-Farisi ra, Rasulullah saw bersabda, “Berjaga-jaga sehari-semalam (di daerah perbatasan) lebih baik daripada puasa beserta shalat malamnya selama satu bulan. Seandainya ia meninggal, maka pahala amalnya yang telah ia perbuat akan terus mengalir, dan akan diberikan rezeki baginya, dan ia terjaga dari fitnah.” (HR. Muslim, no. 1913)

 Ketujuh: Meninggal dalam keadaan melakukan amal shalih

Dari Hudzaifah ibnul Yaman ra, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah karena mencari wajah Allah kemudian amalnya ditutup dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa berpuasa karena mencari wajah Allah kemudian amalnya diakhiri dengannya, maka ia masuk surga. Barangsiapa bersedekah kemudian itu menjadi amalan terakhirnya, maka ia masuk surga.” (Syaikh Al-Albani)

Berikut amalan agar kelak meninggal dengan kondisi husnul khatimah.

1. Bertobat

Manusia tidak pernah luput dari kesalahan, maka mohonlah ampun untuk setiap dosa baik yang disengaja atau pun tidak. Karena terkadang ada rasa ketidaksadaran setelah melakukan dosa.

Dalam hadits Qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda: Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan di siang maupun malam, dan Aku Maha Mengampuni dosa, Maka mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian.” (HR.Muslim)

2. Menjauhi Kekafiran

Allah swt berfirman dalam QS. Ali-Imran ayat 91, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong”

3. Ikhlas dalam Amal

Sama halnya dengan kekafiran, ketika dalam berbuat baik tidak dengan hati yang ikhlas, maka apa pun yang dilakukan juga akan sisa-sia. Dalam hal ini Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah : 264). 

Hanya amalan ikhlas yang mendapat balasan. Meski seseorang telah berusaha melakukan banyak kebaikan, tetapi jika ada perasaan riya' dan sum'ah, maka pahala yang didapat akan hangus. Dan akan menjadi penyesalan saat kematian datang.

4. Amalan Rutin Meski Sedikit

Ada pepatah yang mengatakan, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Ternyata benar adanya. Jika kita beramal baik secara rutin meskipun hanya sedikit-sedikit, maka juga akan menjadi ladang pahala yang besar.

Dari 'Aisyah –radhiyallahu 'anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR.Muslim)

5. Menghindari Berbuatan Zalim

Sebagai sesama makhluk Allah, hendaklah saling kasih-mengasihi, dan sayang-menyayangi. Upayakan terciptanya lingkungan yang saling membantu tanpa ada yang merasa terzalimi. Karena Rasulullah saw bersabda, “Takutlah terhadap doa orang-orang yang terzalimi, karena tidak ada hijab antara dirinya dengan Allah.” (HR.Muslim)

6. Selalu Mengingat Kematian 

Kematian pasti adanya. Jika seseorang selalu mengingat mati, maka akan semakin giat beramal shaleh agar meraih husnul khatimah. Rasulullah saw bersabda: “Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit yang melebihi umur tersebut.” (HR. Ibnu Majah)

Setelah semua amalan di atas dilakukan, maka memanjatkan doa kepada Allah SWT. Salah satu doanya yakni, “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadapMu”. (HR.Ath-Thabrani). Wallahu a'lam. ***(Abu Ahmad)

أحدث أقدم