MOSI INTEGRAL NATSIR

Kita perlu mendalami sedikit tentang latar belakang kenapa ada konsep Natsir tentang “Mosi Integral”. Sebenarnya bisa disimpulkan, proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi dua kali kelahirannya yaitu, pada tanggal 17 Agustus 1945 dan pada tanggal 17 Agustus 1950. Proklamasi 17 Agustus 1945 disampaikan oleh Ir. Soekarno pukul 10 pagi di muka gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta dan dihadiri oleh tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Naskah proklamasi itu ditanda tangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta bertindak atas nama bangsa Indonesia.

Peta Politik Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
Belanda masih ingin tetap menjajah bangsa Indonesia antara lain adalah di samping kekuatan fisik berupa tentara KNIL, Belanda melancarkan serangan yang bersifat politis dengan mengepung Republik Indonesia dengan apa yang dinamakan BFO (Byzonder Federaal Overleg) yaitu terdiri dari 15 negara bagian, negara Dayak Besar, negara Indonesia Timur, negara Borneo Tenggara, negara Borneo Timur, negara Borneo Barat, negara Bengkulu, negara Blitar, negara Riau, negara Sumatra Timur, negara Banjar, negara Madura, negara Pasundan, negara Sumatra Selatan, negara Jawa Timur, negara Jawa Tengah.
Dalam keadaan seperti itu, pada Konferensi Meja Bundar (KMB), akhirnya Republik Indonesia terpaksa menerima penyerahan kedaulatan yang dilakukan pemerintah Belanda dengan negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang bersifat federatif, terdiri dari beberapa negara bagian termasuk Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Desember 1949 Mr. Assaat disumpah sebagai pemangku jabatan Presiden Republik Indonesia (RIS) dan Prawoto Mangku Saswito sebagai wakil ketua KNI-P, maka jadilah Republik Indonesia yang beribu kota di Yogyakarta, salah satu dari negara bagian RIS. Pada tanggal 4 Januari 1950 Presiden RI Mr. Assaat menunjuk Mr. Susanto Tiproja, M. Natsir dan Dr. Abdul Halim sebagai pembentuk kabinet RI yang terdiri 14 Menteri.

Kondisi Politik
M. Natsir mengadakan tukar pikiran (Lobbying) dengan B. Sahetapy Sugel wakil dari BFO ( Byzonder Federal Overleg) yaitu terdiri dari kepala-kepala daerah yang tadinya dibentuk sebagai persiapan pembentukan negara RIS, lalu M. Natsir mendapat kesimpulan bahwa kalangan BFO sulit untuk membubarkan diri. M. Natsir mengajukan gagasan supaya negara-negara bagian sama-sama mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui prosedur parlementer agar tidak ada satu negara bisa menelan negara bagian lainnya.
Berdasarkan hasil musyawarah yang cukup lama baik di Jakarta maupun di Yogyakarta, maka pada sidang Dewan Perwakilan RIS, tanggal 3 April 1950 Natsir menyampaikan pidato yang ditutup dengan pernyataan politik yang didukung oleh ketua-ketua fraksi, maka M. Natsir merupakan sosok intelektual muslim sekaligus sebagai negarawan dan M. Natsir menyampaikan “Mosi Integralnya”.

Natsir adalah Intelektual Muslim yang Negarawan
Dari hasil kajian, Natsir pada tanggal 16 Januari 1950 membentuk kabinet, maka negara RIS bentukan BFO tadi telah terjadi pergolakan-pergolakan di negara-negara bagian sehingga pembangunan kesejahteraan rakyat akan terbengkalai. Maka disini terlihat Natsir berpikir tentang kepentingan rakyat dari kepentingan pribadi atau kelompok (masyumi). Selain itu kita bisa memahami salah satu isi pidato Natsir adalah meminta pemerintah supaya mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah yang berkembang dalam masyarakat dan menyusun konsep penyelsaian soal-soal yang terjadi sebagai perkembangan politik dengan cara integral dan program yang jelas.
Demikian bunyi “Mosi Integral” Natsir. Pada perkembangan berikutnya M. Hatta sebagi Perdana Menteri menempuh jalan yang singkat praktis dengan menyatakan bahwa “Mosi Integral Natsir” kami jadikan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi.
Demikianlah “Mosi Integral Natsir” telah melapangkan jalan bagi pulihnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1950 melalui jalan demokratis dan cara yang terhormat. Dengan begitu jelas ummat Islam diwakili oleh tokoh-tokoh Masyumi merupakan pelopor dalam perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. (M. Daud Gunawan)
Buletin Suara Istiqamah No. 10/April 2014

 
أحدث أقدم