Awal Agustus ini, pemerintah Arab Saudi
mengeluarkan kebijakan baru yang mengagetkan. Wanita diizinkan berbikini di pantai. Apa alasannya? Padahal selama ini Arab Saudi punya peraturan yang ketat bagi wanita. Wanita bepergian harus bersama muhrim. Wanita dilarang
nyetir mobil. Wanita yang memakai pakaian terlalu seksi bisa
ditahan. Namun kini, atas perintah Pangeran Muhammad bin Salman, Putera Mahkota Arab Saudi, wanita boleh berbikini di pantai. Khususnya di
kawasan resor pantai di
kawasan pesisir Laut Merah yang akan dimulai pada tahun 2019. Resor mewah sepanjang 200 km itu akan dibangun dengan biaya
5 milyar USD.
Diduga bahwa ini
adalah cara pemerintah Arab Saudi agar pendapatan negara tak
lagi tergantung dengan minyak. Sesuai visi Muhammad bin
Salman tahun 2030
mendatang. Nampaknya Arab Saudi mengikuti apa yang dilakukan
Dubai, negara Timur Tengah yang sudah lebih dulu membebaskan wanita
berbikini di pantai. Tampak di
Pantai Jumeirah, wanita dan turis dari berbagai negara bebas untuk berbikini
dan berjemur. Pariwisata
pun sudah menjadi devisa terbesar kedua setelah minyak bumi untuk Dubai. Selain itu, para turis bisa langsung terbang ke resor mewah di pesisir Laut Merah itu dengan bebas
visa untuk berkunjung. Ini adalah sebuah mega proyek, karena nantinya di resor itu bakal dipenuhi berbagai atraksi
dan fasilitas wisata. Ada penginapan bintang 5 , pulau2 pribadi dan pesisir Laut Merah dengan panorama yang cantik. Lautnya
bergradasi dan terumbu karang di bawah airnya yang indah. Arab
Saudi ingin memaksimalkan sektor pariwisata demi devisa negaranya.
Langkah
kontroversial Arab Saudi ini dilakukan justru ketika bahkan Negara-negara non
muslim seperti Jepang, Taiwan dan Korea
sedang gencar mempromosikan Halal Tourism. Mereka justru membangun pusat-pusat
wisata yang Islami, kuliner Islami, hotel Islami, atraksi Islami. Justru ketika
busana hijab muslimat menutup aurat mulai menjadi trend dunia, Arab Saudi
membolehkan buka aurat… Dunia semakin terbalik. ***(BP)