Diplomasi Aya Sophia

Aya Sophia adalah sebuah gereja besar Kristen Ortodox yang dibangun oleh Kaisar Konstantin untuk menyaingi Kristen Roma ditahun  325. Kemudian dijadikan masjid oleh Sultan Muhammad al-Fatih ditahun 1453 ketika dia merebut kota Konstantinopel. Diluar dibangun 4 menara adzan dan didalam ditambah mimbar serta mihrab kearah kiblat. Lukisan2 malaikat dan orang2 suci ditutup dengan plester dan dibuat hiasan kaligrafi ayat2 al-Qur’an.  Selama hampir 500 tahun Aya Sophia mejadi masjid sampai ketika pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk merubahnya menjadi museum ditahun 1934. 

Dekorasi Islam interior dipertahankan dan ornamen lukisan2 gereja direkonstruksi, sehingga Aya Sophia menjadi obyek kunjungan paling populer dan unik di Istanbul Turki, berupa kombinasi seni Islam dan Kristen. Orang harus antri berjam-jam untuk memasukinya. Unesco sudah menetapkannya menjadi bangunan sejarah yang harus dilindungi. 

Namun penganut Kristen Ortodox menuntut agar Aya Sophia dikembalikan jadi gereja lagi, dengan alasan bahwa melestarikan sebuah bangunan berarti juga melestarikan fungsi nya semula. Sebaliknya muslim militan menuntut agar Aya Sophia kembali jadi masjid sebagai lambang kemenangan Islam terhadap Kristen dimasa lalu. Hal ini turut menjadi isu yang mengganjal usaha Turki untuk menjadi anggota Uni-Eropa. Walaupun penduduk Turki 99% muslim, namun sekularisme yang menjadi dasar negara Turki melarang pemerintah memihak agama manapun. Maka Aya Sophia tetap jadi museum yang netral. Tetapi kemenangan partai Islam sekarang membawa kebijakan yang agak pro Islam, sehingga ada ruangan didekat mihrab museum Aya Sophia yang diam-diam ditetapkan khusus untuk shalat, yang hanya dibuka setiap shalat 5 waktu, tanpa diumumkan kepada pengunjung.  Dengan diplomasi seperti ini  diharapkan pintu Uni-Eropa terbuka sambil di Aya Sophia masih ada sebagian fungsinya sebagai masjid. Memang sulit mengembalikan Islam ketika sekularisme sudah meresap hampir satu abad. (BP/BSI No.10/2013)


Lebih baru Lebih lama