Syafruddin Prawiranegara
lahir di Serang, Banten tahun 1911, dan pada usia muda yakni 35 tahun sudah
menjadi Menteri Keuangan RI, lalu Menteri Perdagangan, dan Menteri Pertanian.
Dia bahkan sempat menjadi Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia selama
setahun, ketika pemerintah RI lumpuh akibat Belanda menangkap Presiden Soekarno
dan Wakil Presiden Moh. Hatta di Yogya Desember 1948.
Tetapi hidup Syafruddin tetap sangat sederhana.
Waktu menjadi Menteri Keuangan, dia tidak punya uang sama sekali untuk membeli
gurita (popok) bayinya, Khalid, yang baru lahir. Isterinya yang bernama Teuku
Halimah, berkata kepada Aisyah, putri sulungnya, sambil menangis : “Kasihan
sekali adikmu ini Icah. Ibu dan ayah tidak punya uang untuk membeli gurita
untuk membungkus badannya.” Icah bertanya sambil bingung:” Ayah kan Menteri
Keuangan, kenapa tak punya uang ? Kata orang menteri itu orang kaya Bu..”
Ibunya menjawab: “Nak, ayahmu sama sekali tidak tergoda memakai uang negara
untuk membeli sepotong kain gurita..” Lalu mereka menyobek kain kasur untuk
membungkus bayinya, karena kain biasapun tidak ada juga. Mereka tidak punya apa
apa kecuali koper dan pakaian seadanya.
Ketika pindah dari rumah kontrakannya di Bandung, menteri itu mengontrak rumah lagi di Jakarta. Sebagai aktifis partai Masyumi dia mengikuti kesederhanaan hidup mentornya yakni Haji Agus Salim dengan berpindah-pindah kontrakan rumah. Kadang-kadang koper dan beberapa barang-barangnya terpaksa dijual untuk menyambung hidup sekeluarga. Sisa barang yang tak dibawa di Bandung dititipkan kepada orang yang dipercaya, tetapi malah digelapkan oleh orang tersebut. Habislah sudah harta sang menteri.
Ketika pindah dari rumah kontrakannya di Bandung, menteri itu mengontrak rumah lagi di Jakarta. Sebagai aktifis partai Masyumi dia mengikuti kesederhanaan hidup mentornya yakni Haji Agus Salim dengan berpindah-pindah kontrakan rumah. Kadang-kadang koper dan beberapa barang-barangnya terpaksa dijual untuk menyambung hidup sekeluarga. Sisa barang yang tak dibawa di Bandung dititipkan kepada orang yang dipercaya, tetapi malah digelapkan oleh orang tersebut. Habislah sudah harta sang menteri.
Ketika Pemerintah RI pindah Ke Yogyakarta, dengan
naik kereta api segera mereka pindah lagi. Di Yogjakarta, dicarinya kontrakan,
tempat bernaung untuk sang istri dan anak-anaknya, namun keadaan di sana penuh
sesak pengungsi. Sang menteri mencari tempat lain, berpindah ke Magelang,
hingga Dr. Soekiman (Ketua Masyumi saat
itu) memberikan tumpangan tempat di paviliunnya di Pakualaman. Tinggallah ia
dan keluarganya, berbagi dengan Mr. Syamsuddin dan juga Dr. Soekiman. “Meskipun
jabatannya adalah Menteri Keuangan, tetapi dibandingkan dengan kehidupannya
taktkala menjadi Kepala Inspeksi Pajak di Kediri, keadaannya jauh lebih sederhana,
malah dekat kepada melarat,” tulis Ayip Rosidi. “Syafruddin Prawiranegara lebih
takut pada Allah swt.”.
Memang kisah nyata itu terdengar seperti dongeng
bagi kita saat ini. Namun teladan Syafruddin Prawiranegara menjadi sangat perlu
dizaman ini, ketika para pejabat dan wakil rakyat saling berebut uang negara
laksana berebut harta rampasan perang.***BSI 01/52 - 2015
