Di tahun 60-an suasana Indonesia masih diwarnai oleh kekuatan komunis PKI yang mendominir bidang politik dan kebudayaan. Ummat Islam di bawah tekanan. Banyak tokoh-tokoh Islam dipenjara oleh rezim waktu itu. Orang takut terlihat taat beribadah. Kegiatan dakwah sangat terbatas. Diantaranya diselenggarakan di masjid Istiqamah Cihapit, yang berada tersembunyi di belakang pasar dan took-toko Cina.
Di situ tempat bertemu para aktifis mahasiswa Islam karena masjid ini dekat dengan markas HMI di jalan Sabang. Juga sering berkumpul tokoh-tokoh Masyumi seperti M. Natsir, Moh. Roem dll dan juga anggota TNI dari kompleks militer jalan Aceh dan sekitarnya.
Memang waktu itu tidak ada masjid pinggir jalan di wilayah Bandung Utara kecuali masjid Cipaganti. Ketika pemberontakan G-30-S/ PKI meletus di tahun 1965 lalu berhasil ditumpas, maka kondisi jadi terbalik. Orang tidak takut-takut lagi beribadah, maka masjid mulai makmur lagi. Kuliah subuh dan shalat berjamaah mulai ramai. Kursus dakwah diadakan untuk mencetak muballigh.
Tokoh-tokoh Islam kel uar dari penjara, diantaranya ialah KH.M. Isa Anshary, orator ulung pengarang buku Mujahid Dakwah. Dialah yang memberi nama Kulliyatul Mujahidin Istiqamah di tahun 1967 kepada kursus kader da'i.
Di antara para muballigh senior yang membina diawal adalah KH. M Isa Anshary, KH Bustami Darwis, Kol. Abjan Sulaiman, H.Naswary Mansur, KH. EZ Muttaqien, KH. Fahruddin Alkahiri, KH. Abdul Mu'thi Nurdin, KH.M. Rusyad Nurdin dll.
Para alumni KMI akhirnya menjadi pegiat dakwah yang tersebar di pelosok tanah air. Kini di tahun 2016 KMI berkiprah kembali dengan wajah baru dan warna baru: merah maroon. Dibina oleh dosen-dosen dengan program-program kuliah menarik, yang bisa diunduh melalui teknologi internet. Tetapi baru seminggu berjalan, akun Kulliyatul Mujahidin Istiqamah beserta emailnya diblokir oleh Google Internasional, karena sistem sekuritinya membaca kata “Mujahidin” sebagai situs radikal. Setelah melalui perdebatan akhirnya program-program itu bisa diunggah lagi setelah nama dirubah menjadi KMI Istiqamah. Nah, kalau kata “ jihad” dan semua turunannya dianggap radikal, maka kitab Al-Qur'an bisa-bisa diblokir juga.***(BP)
Di situ tempat bertemu para aktifis mahasiswa Islam karena masjid ini dekat dengan markas HMI di jalan Sabang. Juga sering berkumpul tokoh-tokoh Masyumi seperti M. Natsir, Moh. Roem dll dan juga anggota TNI dari kompleks militer jalan Aceh dan sekitarnya.
Memang waktu itu tidak ada masjid pinggir jalan di wilayah Bandung Utara kecuali masjid Cipaganti. Ketika pemberontakan G-30-S/ PKI meletus di tahun 1965 lalu berhasil ditumpas, maka kondisi jadi terbalik. Orang tidak takut-takut lagi beribadah, maka masjid mulai makmur lagi. Kuliah subuh dan shalat berjamaah mulai ramai. Kursus dakwah diadakan untuk mencetak muballigh.
Tokoh-tokoh Islam kel uar dari penjara, diantaranya ialah KH.M. Isa Anshary, orator ulung pengarang buku Mujahid Dakwah. Dialah yang memberi nama Kulliyatul Mujahidin Istiqamah di tahun 1967 kepada kursus kader da'i.
Di antara para muballigh senior yang membina diawal adalah KH. M Isa Anshary, KH Bustami Darwis, Kol. Abjan Sulaiman, H.Naswary Mansur, KH. EZ Muttaqien, KH. Fahruddin Alkahiri, KH. Abdul Mu'thi Nurdin, KH.M. Rusyad Nurdin dll.
Para alumni KMI akhirnya menjadi pegiat dakwah yang tersebar di pelosok tanah air. Kini di tahun 2016 KMI berkiprah kembali dengan wajah baru dan warna baru: merah maroon. Dibina oleh dosen-dosen dengan program-program kuliah menarik, yang bisa diunduh melalui teknologi internet. Tetapi baru seminggu berjalan, akun Kulliyatul Mujahidin Istiqamah beserta emailnya diblokir oleh Google Internasional, karena sistem sekuritinya membaca kata “Mujahidin” sebagai situs radikal. Setelah melalui perdebatan akhirnya program-program itu bisa diunggah lagi setelah nama dirubah menjadi KMI Istiqamah. Nah, kalau kata “ jihad” dan semua turunannya dianggap radikal, maka kitab Al-Qur'an bisa-bisa diblokir juga.***(BP)